Minggu, 07 Desember 2008

nesa


Tulisan apapun itu bentuknya, tidak dapat dengan mudah dilepaskan dari kondisi kejiwaan penulisnya. Hal ini dapat dengan mudah dipahami ketika menyimak puisi-puisi penyair tertentu dalam satu rangkaian waktu.

Demikian juga dengan Kenzt. Sekeras apapun upaya untuk mencari inspirasi sebagai bahan penulisan puisi, kondisi kejiwaan saat penulisan akhirnya juga turut menyumbangkan andil. Entah apakah ada rekan-rekan penulis lain yang merasa bisa melepaskan diri dari ketergantungan kondisi kejiwaan tersebut, namun hal ini sama sekali tidak bisa saya lepaskan. Terutama saat-saat penulisan puisi.

Contohnya adalah ketika saya sedang bingung dan memaksakan untuk menulis. Alhasil, puisi saya tersebut jadinya menimbulkan sedikit kebingungan di dalamnya. Ada yang ngga’ nyambung. Yah, seperti itulah kira-kira.

Tidak ada komentar: